Klaten — Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) KSP “Principium” Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama dosen pendamping menggelar Sosialisasi Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), Pelatihan Pengelolaan Wisata, dan Penguatan Kelembagaan di Aula Balai Desa Sidowayah, Kabupaten Klaten, Kamis (6/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan tata kelola kelembagaan, pengelolaan destinasi berbasis masyarakat, serta pengembangan potensi wisata air menuju konsep wellness tourism yang berkelanjutan.
Kegiatan dihadiri oleh Indra Prasetya Adi, S.E., M.M. selaku Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Alam, Teknologi Tepat Guna dan Ekonomi Masyarakat, Jimmi Sandi Prasetyo, S.ST.Par., M.Sc. selaku Dosen D3 Usaha Perjalanan Pariwisata Sekolah Vokasi UNS, Dr. Muhammad Rustamaji, S.H., M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum UNS, Rysca Indreswari, S.Pt., M.Si. dari Tim Bina Desa Center UNS, Lushiana Primasari, S.H., M.H. selaku Dosen Pendamping PPK Ormawa KSP “Principium” FH UNS 2026, Dr. Deria Adi Wijaya, S.ST.Par., M.Sc. selaku Ketua Program Studi D3 Usaha Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi UNS, serta Pemerintah Desa Sidowayah, BUMDes Sinergi Sidowayah, Karang Taruna, Pokdarwis, pengelola wisata, dan masyarakat Desa Sidowayah.
Sementara itu, Indra Prasetya Adi, S.E., M.M. selaku Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Alam, Teknologi Tepat Guna dan Ekonomi Masyarakat, menyampaikan bahwa pengembangan potensi desa perlu dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan sumber daya yang telah dimiliki masyarakat. Potensi sumber daya alam, termasuk sumber daya air, tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata, tetapi juga perlu dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat melalui inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan lokal. Pendekatan tersebut dinilai penting agar pengembangan wisata dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas masyarakat dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
Menurut Indra, pengembangan wellness tourism di Desa Sidowayah perlu dilakukan secara bertahap dengan mengintegrasikan potensi alam, aktivitas masyarakat, serta penguatan kelembagaan desa. Pengelolaan potensi tersebut perlu diarahkan agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah desa, pengelola wisata, masyarakat, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi penting untuk memastikan inovasi yang dikembangkan dapat diterapkan secara nyata dan memberikan dampak ekonomi serta sosial bagi Desa Sidowayah.
Pemilihan Desa Sidowayah sebagai mitra program dilatarbelakangi oleh keberadaan potensi wisata dan kelembagaan masyarakat yang telah berkembang, termasuk Kampung Dolanan Sidowayah, Umbul Siblarak, serta potensi sumber daya air lainnya. Potensi tersebut dinilai memiliki ruang pengembangan lebih lanjut melalui integrasi konsep Water Science berbasis STEAM dengan pendekatan wellness tourism.
Dalam pemaparannya, Jimmi Sandi Prasetyo menjelaskan bahwa pengembangan wellness tourism tidak semata-mata berkaitan dengan spa atau pijat, tetapi dapat dikembangkan melalui berbagai aktivitas yang memberikan pengalaman positif bagi tubuh, pikiran, dan jiwa. Konsep tersebut dikenal dengan pendekatan body, mind, and soul, dengan aktivitas wisata sebagai salah satu medium untuk menciptakan pengalaman yang menyegarkan sekaligus memberikan manfaat bagi wisatawan.
Menurutnya, Desa Sidowayah memiliki peluang untuk mengembangkan konsep tersebut melalui potensi sumber daya air yang dimiliki. Pengembangan wellness tourism dapat diarahkan pada aktivitas berbasis air, termasuk aquatic yoga, maupun aktivitas lain yang relevan dengan karakteristik dan potensi lokal. Pengembangan tersebut juga perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya air agar aktivitas pariwisata tidak justru merusak objek yang menjadi daya tarik wisata.
“Potensi umbul sudah ada, tetapi selama ini belum dikembangkan dalam bentuk paket wellness tourism. Langkah awalnya adalah membuat mapping dengan aktor utamanya warga, menggali sejarah dan potensi yang dimiliki, kemudian menyusun SOP hingga membuat paket wisata,” terang Jimmi Sandi Prasetyo dalam pemaparannya.
Lebih lanjut, Jimmi menjelaskan bahwa pengembangan destinasi wisata perlu dilakukan melalui pemetaan ekosistem pariwisata secara menyeluruh. Destinasi tidak hanya membutuhkan objek wisata, tetapi juga perlu ditunjang transportasi, aktivitas wisata, kuliner, homestay, pertunjukan, serta produk oleh-oleh atau cendera mata. Pemetaan tersebut diperlukan untuk mengetahui komponen yang telah tersedia dan aspek yang masih perlu dikembangkan di Desa Sidowayah.
Pengembangan destinasi juga diarahkan agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat lokal. Dalam pemaparannya, Jimmi menekankan pentingnya memastikan keterlibatan masyarakat setempat sekaligus menjaga keberlanjutan objek wisata, terutama sumber daya air yang menjadi salah satu potensi utama Sidowayah.
Selain pengembangan destinasi, aspek sumber daya manusia menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut. Pengelola wisata perlu memiliki kompetensi sesuai dengan perannya, yang dapat diperkuat melalui pelatihan dan sertifikasi. Pengembangan kapasitas tersebut diperlukan agar pengelolaan destinasi menuju wellness tourism dapat dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.
Dari sisi kelembagaan, pengembangan BUMDes juga menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas Desa Sidowayah. Berdasarkan pemaparan mengenai kebijakan pengelolaan dan pengembangan BUMDes Kabupaten Klaten, pemerintah daerah mendorong penguatan sumber daya manusia, pemetaan potensi desa, penguatan administrasi dan keuangan, penguatan pemasaran, serta perluasan usaha sebagai strategi pembinaan BUMDes. Sidowayah sendiri tercatat sebagai salah satu BUMDes yang masuk kategori maju berdasarkan data tahun 2025.
Penguatan kelembagaan tersebut menjadi relevan karena pengembangan pariwisata membutuhkan tata kelola yang terintegrasi. Dalam notula kegiatan juga tercatat bahwa dari BUMDes yang telah berkembang di Kabupaten Klaten masih terdapat kelembagaan yang belum memenuhi standar operasional penataan kelembagaan secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas kelembagaan, pengorganisasian, administrasi keuangan, pemasaran, hingga pengembangan kerja sama menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha desa.
Dalam sesi diskusi, Ardiyanto Rozali selaku Ketua Karang Taruna Sidowayah turut mengangkat potensi wisata air di Sidowayah yang selama ini telah dikenal masyarakat memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wellness tourism. Diskusi tersebut kemudian diarahkan pada bagaimana potensi yang telah ada dapat dikemas secara lebih sistematis sehingga memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Jimmi menjelaskan bahwa pengembangan potensi lokal perlu diawali dengan pemetaan, penggalian sejarah, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), hingga pengemasan menjadi paket wisata. Untuk aktivitas tertentu, aspek keamanan dan kelayakan juga perlu diperhatikan, termasuk parameter kualitas air, kompetensi sumber daya manusia, serta prosedur aktivitas wisata. Setelah itu, paket wisata dapat dikembangkan melalui penyusunan itinerary, brosur, dan kerja sama dengan agen perjalanan.
Sementara itu, Mujahid Jaryanto, S.H. selaku Kepala Desa Sidowayah, menyampaikan pertanyaan mengenai kriteria dan indikator yang digunakan dalam menentukan perkembangan BUMDes. Hal tersebut menjadi penting mengingat Desa Sidowayah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai sumber penggerak ekonomi masyarakat.
Pengembangan wisata di Desa Sidowayah juga tidak hanya diarahkan pada satu destinasi. Dalam diskusi kegiatan, terdapat gagasan untuk mengintegrasikan sejumlah potensi antar desa melalui pemetaan dan pengembangan tema wisata, termasuk pengembangan jalur cycling serta terintegrasi dengan Besalen Koripan, Omah Rojolele, dan destinasi wisata lainnya. Integrasi tersebut diharapkan dapat memperluas dampak ekonomi sekaligus menghadirkan alternatif pengalaman wisata yang lebih beragam.
Melalui kegiatan ini, Tim PPKO KSP “Principium” FH UNS berupaya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, pemerintah daerah, BUMDes, kelompok masyarakat, dan pengelola wisata. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi turut mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyusunan tata kelola, pengemasan produk wisata, serta perlindungan sumber daya lokal.
“Harapan setelah adanya pelatihan ini adalah tumbuhnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Sidowayah dalam mengelola potensi wisata secara lebih terstruktur, sehingga potensi sumber daya air dan kekayaan lokal yang dimiliki dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap menjaga keberlanjutannya,” ujar Lushiana Primasari, S.H., M.H., selaku Dosen Pendamping Tim PPKO KSP “Principium” FH UNS.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 15 anggota Tim Pelaksana PPK Ormawa UNS 2026 KSP “Principium” FH UNS, tiga anggota Pokdarwis, lima anggota Karang Taruna Desa Sidowayah, dua anggota BUMDes Sinergi Sidowayah, dan dua anggota pengelola Kampung Dolanan Sidowayah. Kegiatan menjadi salah satu tahapan dalam penguatan kapasitas mitra untuk mengembangkan Desa Sidowayah sebagai destinasi wisata berbasis potensi lokal yang partisipatif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
The PPKO Team of the KSP Principium Faculty of Law UNS Encourages the Development of Water-Based Tourism and Strengthening the Institutions of Sidowayah Village.
Klaten — The Student Organization Capacity Building Program (PPKO) Implementation Team of the KSP “Principium” Faculty of Law (FH) Sebelas Maret University (UNS) Surakarta together with accompanying lecturers held a Socialization of the Student Organization Capacity Building Program (PPK Ormawa), Tourism Management Training, and Institutional Strengthening at the Sidowayah Village Hall, Klaten Regency, Thursday (6/8/2026). The activity is part of an effort to strengthen community capacity in developing institutional governance, community-based destination management, and developing water tourism potential towards the concept of sustainable wellness tourism.
The activity was attended by Indra Prasetya Adi, SE, MM as Head of Natural Resource Development, Appropriate Technology and Community Economy, Jimmi Sandi Prasetyo, S.ST.Par., M.Sc. as Lecturer of D3 Tourism Travel Business, UNS Vocational School, Dr. Muhammad Rustamaji, SH, MH as Dean of the Faculty of Law, UNS, Rysca Indreswari, S.Pt., M.Sc. from the UNS Village Center Development Team, Lushiana Primasari, SH, MH as Supervising Lecturer of PPK Ormawa KSP “Principium” FH UNS 2026, Dr. Deria Adi Wijaya, S.ST.Par., M.Sc. as Head of the D3 Tourism Travel Business Study Program, UNS Vocational School, as well as the Sidowayah Village Government, BUMDes Sinergi Sidowayah, Karang Taruna, Pokdarwis, tourism managers, and the Sidowayah Village community.
Meanwhile, Indra Prasetya Adi, SE, MM, Head of the Natural Resources Development, Appropriate Technology, and Community Economy Division, stated that village potential development needs to be carried out by considering the characteristics and resources that the community already possesses. Natural resource potential, including water resources, cannot only be utilized as tourist attractions but also needs to be developed into part of the community’s economic activities through innovations that are in line with local needs and capabilities. This approach is considered important so that tourism development can go hand in hand with increasing community capacity and utilizing appropriate technology.
According to Indra, the development of wellness tourism in Sidowayah Village needs to be carried out in stages, integrating natural resources, community activities, and strengthening village institutions. Management of this potential needs to be directed to provide added value to the community without neglecting environmental sustainability. Collaboration between the village government, tourism managers, the community, universities, and various stakeholders is crucial to ensure that the innovations developed can be implemented effectively and provide economic and social impacts for Sidowayah Village.
Sidowayah Village was selected as a program partner due to its tourism potential and established community institutions, including the Sidowayah Dolanan Village, Umbul Siblarak, and other water resource potential. This potential is considered to offer room for further development through the integration of the STEAM-based Water Science concept with a wellness tourism approach.
In his presentation, Jimmi Sandi Prasetyo explained that the development of wellness tourism is not solely related to spas or massages, but can be developed through various activities that provide positive experiences for the body, mind, and soul. This concept is known as the body, mind, and soul approach, with tourism activities as one medium to create refreshing experiences while providing benefits for tourists.
According to him, Sidowayah Village has the opportunity to develop this concept through its potential water resources. Wellness tourism development can be directed at water-based activities, including aquatic yoga, or other activities relevant to local characteristics and potential. Such development must also consider the sustainability of water resources to ensure tourism activities do not damage the attractions themselves.
“The potential for springs already exists, but so far it hasn’t been developed into a wellness tourism package. The initial step is to map the area with key stakeholders, explore its history and potential, then develop standard operating procedures (SOPs) and create a tourism package,” explained Jimmi Sandi Prasetyo in his presentation.
Jimmi further explained that developing tourist destinations requires comprehensive mapping of the tourism ecosystem. Destinations require not only tourist attractions but also transportation, tourism activities, culinary delights, homestays, performances, and souvenirs. This mapping is necessary to identify existing components and aspects that still need development in Sidowayah Village.
Destination development is also aimed at ensuring that the economic benefits of tourism reach local communities. In his presentation, Jimmi emphasized the importance of ensuring local community involvement while maintaining the sustainability of tourist attractions, particularly water resources, one of Sidowayah’s primary potentials.
In addition to destination development, human resources are a key focus of these activities. Tourism managers need to possess competencies appropriate to their roles, which can be strengthened through training and certification. This capacity building is necessary to ensure professional and sustainable management of destinations geared toward wellness tourism.
From an institutional perspective, developing a Village-Owned Enterprise (BUMDes) is also a crucial part of strengthening the capacity of Sidowayah Village. Based on the explanation of the Klaten Regency BUMDes management and development policy, the local government is promoting human resource development, village potential mapping, administrative and financial enhancement, marketing enhancement, and business expansion as BUMDes development strategies. Sidowayah itself is listed as one of the BUMDes in the advanced category based on 2025 data.
Institutional strengthening is relevant because tourism development requires integrated governance. The minutes of the activity also noted that among the established village-owned enterprises (BUMDes) in Klaten Regency, some institutions still do not meet optimal operational standards for institutional arrangements. Therefore, improving institutional capacity, organization, financial administration, marketing, and fostering collaboration are crucial for village business development.
During the discussion, Ardiyanto Rozali, Head of the Sidowayah Youth Organization (Karang Taruna), highlighted the potential of water tourism in Sidowayah, which has long been recognized by the community as having the potential to be developed as part of wellness tourism. The discussion then focused on how this existing potential could be more systematically packaged to add value to the community.
In response, Jimmi explained that developing local potential needs to begin with mapping, historical exploration, developing standard operating procedures (SOPs), and packaging it into a tour package. For certain activities, safety and feasibility aspects also need to be considered, including water quality parameters, human resource competency, and tourism activity procedures. Afterward, tour packages can be developed through the development of itineraries, brochures, and collaboration with travel agents.
Meanwhile, Mujahid Jaryanto, SH, Head of Sidowayah Village, raised questions regarding the criteria and indicators used to determine the development of Village-Owned Enterprises (BUMDes). This is crucial given Sidowayah Village’s diverse potential that can be developed as a source of economic growth for the community.
Tourism development in Sidowayah Village is not focused solely on a single destination. Discussions on the activity highlighted the idea of integrating various potentials across villages through mapping and developing tourism themes, including developing cycling trails and integrating them with Besalen Koripan, Omah Rojolele, and other tourist destinations. This integration is expected to expand the economic impact while providing a more diverse range of alternative tourism experiences.
Through this activity, the PPKO KSP “Principium” FH UNS Team strives to build collaboration between universities, village governments, regional governments, village-owned enterprises (BUMDes), community groups, and tourism managers. This collaboration is aimed at ensuring that tourism development goes beyond facility construction and includes institutional strengthening, human resource capacity building, governance development, tourism product packaging, and local resource protection.
“The hope after this training is that the knowledge and skills of the Sidowayah Village community will grow in managing tourism potential in a more structured manner, so that the potential of water resources and local wealth can be developed into tourism experiences that provide benefits to the community while maintaining its sustainability,” said Lushiana Primasari, SH, MH, as the Supervising Lecturer for the PPKO KSP “Principium” FH UNS Team.
The activity was attended by 15 members of the UNS 2026 PPK Ormawa Implementation Team of KSP “Principium” FH UNS, three members of Pokdarwis, five members of Karang Taruna Sidowayah Village, two members of BUMDes Sinergi Sidowayah, and two members of the management of Kampung Dolanan Sidowayah. The activity is one of the stages in strengthening the capacity of partners to develop Sidowayah Village as a tourism destination based on local potential that is participatory, sustainable, and oriented towards community welfare.
