Alifa Salsabila : IOMX Southeast Asia’s Students Opposing Slavery (SOS) Summit Winner 2018

Students Opposing Slavery (SOS) Summit adalah program pendidikan pemuda, penghargaan bagi siswa yang berdedikasi untuk melanjutkan perjuangan Lincoln untuk kebebasan dengan meningkatkan kesadaran tentang perbudakan modern dalam populasi berisiko tinggi yakni remaja. SOS Summit, sebagai Pertemuan Tingkat Tinggi (PTT) pemuda, diadakan di President Lincoln’s Cottage, yakni rumah musim panas Presiden Abraham Lincoln, yang terletak di kawasan Armed Forces Retirement House for Distinguished Veterans, Washington DC, USA, tempat dimana Ia pernah menghabiskan satu per empat masa jabatannya mencari solusi untuk mengakhiri perang sipil Amerika Serikat (AS) yang terjadi karena perbedaan pihak negara-negara bagian AS yang menentang dan mendukung perbudakaan menjadi hal legal di AS, yakni Proklamasi Emansipasi AS.

 

Pada PTT ini, puluhan pemuda dari seluruh dunia berkumpul untuk mendapatkan sumber daya dan pelatihan untuk mengambil tindakan melawan perdagangan manusia di komunitas mereka sendiri. Dimulai pada tahun 2012, dalam perkembangannya, PTT ini bekerjasama dengan United States Agency for International Development (USAID) dan organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), International Organization for Migration (IOM) melalui kantornya di Bangkok, Thailand: IOMX. Adapun kompetisi yang diselenggarakan IOMX untuk mengirimkan dua wakil Asia Tenggara di SOS Summit 2018 dilakukan dengan menyeleksi unggahan video berdurasi tiga puluh detik di Instagram peserta dengan menceritakan alasan mengapa pemuda perlu memperhatikan isu perdagangan manusia dan perbudakan modern serta aksi apa yang pemuda tersebut lakukan dalam perjuangan untuk mengakhirinya. Pada kompetisi ini, delegasi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Alifa Salsabila (Mahasiswa Fakultas Hukum 2014), terpilih sebagai pemenang yang menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam SOS Summit 2018, mewakili Asia Tenggara, bersama satu pemenang lainnya: Nur Alia Abdul Bari dari Brunai Darussalam.

 

.

 

Kompetisi IOMX SOS Summit 2018 ini diikuti oleh 31 peserta dari seluruh Asia Tenggara selama satu minggu, 21 Mei hingga 29 Mei 2018, dengan 9 diantaranya adalah peserta dari Indonesia. Adapun beberapa peserta kompetisi dari Indonesia ini adalah dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), satu mahasiswa Universitas Parahyangan (UNPAR), dan satu mahasiswa Universitas Udayana (UNUD).

 

Dalam SOS Summit 2018 yang dilasanakan pada 25-29 Juni 2018, Alifa dan pertisipan summit lainnya mendapat kesempatan untuk bertemu dan menerima materi dari tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi terkemuka pejuang penghapus perbudakan modern dan perdagangan manusia, seperti: Polaris dari U.S., Helen Taylor dari Global Fund to End Modern Slavry (GFEMS), Cara Hagan dari Goodweave International, dan Su Shern dari Projet Liber8; serta berinteraksi dan bertukar pikiran dengan child labour survivor asal Kamerun yang pernah “dijual” dan diperbudak di Amerika, yang kini justru sempat bekerja untuk Gedung Putih dan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah AS, Evelyn Chumbow. Selain itu, Alifa dan pertisipan lainnya juga berkesempatan bertemu Menteri Dalam Negeri AS, Mike Pompeo dan Puteri dari Presiden Donald Trump, Ivanka Trump yang bertindak sebagai pimpinan upacara dan protokoler Kegiatan Tahunan Kementerian Dalam Negeri AS, Trafficking in Person (TIP) Report 2018, di Kementerian Dalam Negeri AS. Bahkan dalam TIP Report 2018, Alifa berkesempatan menyaksikan secara langsung penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri AS kepada Maizidah Salas asal Indonesia sebagai salah satu tokoh TIP Report Heroes 2018.

 

 

Dari summit ini, Alifa mendapat perspektif baru dan berbeda akan perdagangan manusia dan perbudakan modern, serta pendalaman kompleksitas materi dan renungan visioner untuk mengakhiri kejahatan tersebut. Alifa berharap ilmu dan koneksi yang Ia dapatkan dari summit ini dapat membantunya menyebarkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan rentannya kejahatan ini terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja, serta bagaimana kejahatan ini sangat berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Alifa juga berharap semoga Ia dapat menginspirasi dan memotivasi teman-teman seusianya, serta generasi muda pada umumnya, untuk mau tergerak peduli dan ikut berkontribusi mengakhiri kejahatan ini, dimulai dari hal terkecil yang bisa seseorang lakukan, terlebih dapat berprestasi dan membanggakan Ibu Pertiwi, salah satunya seperti Maizidah dalam TIP Report 2018 sebagaimana disebutkan sebelumnya di atas, karena melihat pada kenyataannya, kejahatan ini masih tumbuh subur di Indonesia. Maka dari itu, untuk mengakhirinya, Alifa percaya kaum muda adalah kaum penggerak masa depan yang influential, kita dapat menjadi generasi yang mengatakan cukup terhadap kejahatan ini.

 

Pada akhir kegiatan, Alifa memperkenalkan tokoh wayang Bima dari Indonesia yang merupakan ksatria, yang memiliki kegigihan dalam memperjuangkan kebenaran, tidak berbeda dari tokoh Abraham Lincoln. Bima dan Abraham Lincoln merupakan simbol dari mimpi dan perubahan. Alifa dan partisipan lainnya pun menerima penghargaan dari President Lincoln’s Cottage.

 

 

Published and edited by :